Home / berita bola / German Hadapi Chile Di Final

German Hadapi Chile Di Final

German Hadapi Chile Di Final – Shkodran Mustafi, bek tengah tim Jerman dari club Arsenal, akan mengusahakan keras utk tdk mengulangi keteledorannya andaikan di turunkan pelatih Joachim Loew hadapi Cile dalam laga set final Piala Konfederasi 2017 di Stadion Krestovsky, Saint Petersburg, Rusia, Senin dinihari kelak. Cile sangat agresif. Ini type permainan yg diunjukkan tim asal Amerika Latin itu dengan cara berkesinambungan sejak mulai Piala Dunia 2010.

Mustafi pastinya masihlah kembali mengenang usahanya kala mengontrol bola pada awal laga melawan Cile di set penyisihan Kelompok B Piala Konfederasi 2017 di Kazan Arena. Kala itu laga baru jalan seputar empat menit. Ia kurang akurat dalam mengamankan bola maka dapat di rebut relasi satu klubnya di Arsenal, Alexis Sanchez.

Penyerang Cile itu lantas laksanakan kerja sama umpan satu-dua sentuhan dengan mitranya di tim nasional, Arturo Vidal, saat sebelum membobol gawang penjaga gawang Jerman, Marc-Andre ter Stegen, pada menit ke enam.

Jerman kala itu baru dapat mengimbangi kedudukan pada menit ke-41 lewat gol yg dibuat penyerang baru mereka dari club Borussia Monchengladbach, Lars Stindl. Tetapi, dengan cara seluruh, tim arahan Loew yg bermain dengan tiga bek tengah, dua bek sayap, juga trio gelandang serang Leon Goretzka, Julian Draxler, serta Stindl, itu kelabakan hadapi serangan Cile, yg dimotori Vidal, Sanchez, serta Eduardo Vargas.

Sanchez membuat gol ke-38 bikin negaranya kala hadapi Jerman pada set penyisihan kelompok Piala Konfederasi 2017. Pemain Arsenal ini jadi pemain tim nasional Cile yg paling produktif. Ketajaman eks gelandang Barcelona itu jadi representasi dari permainan atraktif tim nasional yg menarik perhatian mendiang Johan Cruyff, diantara satu tokoh sistim keseluruhan football, kala nampak dalam putaran final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Walaupun Cile tidak sukses menembus final 2010 serta tim negara asal Cruyff, yakni Belanda, melaju ke partai puncak saat sebelum dihentikan Spanyol, eks pemain paling baik Eropa dari Negeri Oranye itu masih menunjuk Cile menjadi tim yg paling menarik serta mewarisi sistim keseluruhan football. Type bermain utk senantiasa menyerang itu senantiasa diperagakan Cile dalam Piala Dunia 2014, walaupun mereka juga kembali tidak sukses menggapai prestasi besar.

Agresivitas Cile mulai mencuat kala mereka diakukan pelatih asal Argentina, Marcelo Bielsa, pada 2007–2011. Sehabis pernah cuma 1 tahun diakukan pelatih asal Argentina yang lain, Claudio Borghi, 2011–2012, Jorge Sampaoli mengatakan kembali permainan tim ini yg sangat bergerak maju kala menanganinya pada 2012–2016.

Waktu ini Sampaoli pulang ke negaranya, Argentina, utk mengatasi tim nasionalnya sehabis melatih club Sevilla di La Liga Spanyol. Mengenai Cile kembali diakukan pelatih kelahiran Argentina, Juan Antonio Pizzi, yg lantas berganti kewarganegaraan serta jadi penyerang tengah tim nasional Spanyol 1994-1998.

Dua hari selanjutnya, sehabis mereka menundukkan Portugal 3-0 pada semi-final lewat adu penalti serta kecemerlangan penjaga gawang Manchester City, Claudio Bravo, Pizzi mengedepankan niat mereka utk menghadirkan permainan bola yg positif. Mereka tak sempat mengusahakan berencana bermain bertahan serta memercayakan serangan balik.

“Satu-satunya langkah kami dapat bertanding merupakan bermain seperti hari ini, tetap dipinggir batas pada yg menang serta yg kalah. Kami mesti ambil kesempatan serta bikin gol. Kami tak dapat kehilangan intensitas serta konsentrasi andaikan tak menang, ” kata Pizzi. “Tim ini tak sempat menyerah serta percaya bakal kwalitasnya, ” kata Bravo, eks penjaga gawang Barcelona, yg merintangi tiga tembakan pemain Portugal dalam adu penalti di semi-final Piala Konfederasi.

About admin